Wali Kota Abdullah Abu Bakar Kumpulkan 'Pawang Air' untuk Cegah Banjir di Kota Kediri

Kediri Dalam Berita | 08/02/2021

Tribun kediri

 
TRIBUNJATIM.COM/DIDIK MASHUDI
 
Pekerja membersihkan sampah yang ada di saluran drainase pembuangan air ke Sungai Brantas Kota Kediri, Jumat (5/2/2021).


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Tidak ingin wilayahnya selalu digenangi air saat hujan deras, Wali Kota KediriAbdullah Abu Bakar telah kumpulkan para pemangku kepentingan yang menangani Sungai Brantas di Balai Kota Kediri, Jumat (5/2/2021).

Para pemangku kepentingan yang diajak rapat koordinasi di antaranya Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta 1, dan Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (UPT PSDA WS) Brantas.

Upaya itu dilakukan karena curah hujan tinggi yang terjadi beberapa hari ini di seluruh Indonesia. Sehingga mengakibatkan rawan banjir.

Perum Jasa Tirta 1 mencatat pada Jumat (5/2/2021), debit aliran air Sungai Brantas mencapai 750-800 meter kubik per detik.

Pada januari debitnya sempat mencapai 1.200 meter kubik per detik.

Namun karena curah hujan lebih banyak di hilir Sungai Brantas, pada bulan awal Januari Kota Kediri belum merasakan dampaknya.

Saat ini curah hujan di hulu juga tinggi, otomatis berdampak ke Kota Kediri.

Saat ini saluran air yang ada di tepi masih belum optimal. Sehingga perlu ditangani secara lintas sektor dengan melibatkan semua pihak yang memiliki kewenangan.

Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar mengajak para 'pawang air' ini untuk saling bersinergi dengan Pemerintah Kota Kediri dalam hal menangani permasalahan debit air tinggi di Kota Kediri.

Diharapkan dengan rapat koordinasi dapat menjadi solusi dan dapat mengurangi risiko seperti kebanjiran.

“Saya berharap kita punya pemikiran yang sama, karena Kota Kediri ini selain diuntungkan dengan adanya Sungai Brantas tapi juga ada efeknya. Karena kita itu berada di daerah cekungan jadi kita harus punya sungai-sungai yang lancar alirannya. Dan nanti kita mengecek kondisi di lapangan untuk mengurai semua permasalahan ini,” ungkapnya.

Sementara hasil rapat koordinasi telah menghasilkan beberapa strategi untuk menanggulangi banjir.

Di antaranya, membuat outlet di beberapa titik Kota Kediri dengan tujuan untuk mempercepat air-air yang mengantre masuk Sungai Brantas.

Saat ini di timur sungai outlet dari drainase sebanyak 5 outlet dan outlet dari sungai sebanyak 4.

Selain itu, harus disepakati bersama memastikan Kali Kedak dan Kali Ngampel bisa mengalirkan air dengan lancar.

Karena kendala besar yang sudah menahun yaitu banjir di timur rel kereta api Jalan Hasanudin dan Jalan Patimura. Rel kereta api ini yang membuat Kota Kediri sering banjir.

"Karena jembatan-jembatan aliran sungai itu kecil-kecil semua. Jadi jembatannya harus diperbesar. Untuk itu BBWS bisa memberikan rekomendasi dan harus support,” harapnya.

Abdullah Abu Bakar juga menginstruksikan BPBD Kota Kediri untuk memantau kondisi outlet-outlet di Sungai Brantas menggunakan perahu yang dimiliki.

Selain itu Dinas PUPR Kota Kediri diminta melanjutkan proses normalisasi sungai dan drainase yang sudah berjalan mulai beberapa hari yang lalu.