Stik Daun Kelor Bu Olief Kediri, Usaha di Tengah Pandemi Yang Jadi Penghasilan Utama

Kediri Dalam Berita | 03/01/2021

Kediri, koranmemo.com – Pandemi Covid-19 membuat Kholifatul Roifah harus memutar otak untuk tetap mempertahankan perekonomian keluarga. Perempuan yang sebelumnya memiliki usaha katering ini melakukan inovasi usaha. Perempuan berusia 49 tahun ini membuat stik daun kelor.

Usaha stik daun kelor ini dibuatnya pada saat pandemi Covid-19. Awalnya perempuan yang akrab dipanggil Bu Olief ini membuat stik bawang. Namun usaha stik bawang itu hanya digunakan sebagai usaha sampingan.

Dalam kesehariannya, ibu satu putra ini memiliki usaha katering. Namun di tengah pandemi Covid-19 ini usaha katering tersebut mengalami penurunan omset. Bahkan hampir di awal pandemi Covid-19 tidak ada pendapatan sama sekali.

“Awalnya dulu usaha katering. Karena pandemi ini usaha katering sepi dan saya harus tetap memiliki pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari saya dan anak saya,” ungkap pemilik usaha bernama Mak Olief ini.

Bu Olief pun mencari sesuatu inovasi yang selama ini belum ada yang menjual. Daun kelor yang memiliki banyak manfaat untuk kesehatan pun dipilihnya sebagai salah satu varian rasa stik bawang buatannya.

 

Cara pembuatan stik daun kelor inipun cukup mudah. Duan kelor muda dihaluskan bersama dengan bumbu lainnya seperti bawang, garam dan gula. Air daun kelor tersebut kemudian dicampur dengan mentega dan tepung terigu.

Menurut Olief banyak manfaat yang terkandung dalam daun kelor. Diantaranya menstabilkan gula darah, meningkatkan daya tahan tubuh. Oleh sebab itu Olief mencoba mengolah daun kelor agar bisa dikonsumsi selain dalam bentuk jamu.

“Salah satu manfaat daun kelor ini untuk meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga baik dikonsumsi untuk menjaga imunitas,” ungkap Olief yang beralamat di Tirtoudan Pesantren Kota Kediri ini.

Untuk satu kemasan seberat 200 gram, Olief mematok harga stik daun kelornya dengan harga Rp 10.000. Selama pandemi Covid-19, stik daun kelor buatannya banyak diminati masyarakat. Bahkan usaha yang sebelumnya hanya menjadi usaha sampingan, malah menjadi usaha utamanya saat ini.

“Pemasaran sudah sampai Bandung dan Solo. Satu bungkus kemasan 200 gram dijual dengan harga Rp 10.000,” ungkapnya.