KEDIRI – Ada yang berbeda dari pelaksanaan Manusuk Sima hari ini. Jika tahun-tahun sebelumnya Tirtayasa Park yang menjadi lokasi pelaksanaan selalu dipadati ratusan masyarakat, kali ini sepi. Bukan tanpa peminat, hal ini memang menjadi ketentuan wajib pelaksanaan ritual selama wabah COVID-19. Bahkan Walikota Abdullah Abu Bakar bersama jajaran harus menyaksikannya secara daring di ruang Command Center, Balai Kota Kediri.
Tidak hanya penontonnya saja yang dilarang berkerumun, peserta upacara adat juga dibatasi hanya 40 orang saja. Mereka tampak mengenakan riasan dan pakaian kedaerahan seperti prosesi biasanya. Hanya saja, kini mereka juga harus mengenakan face shield untuk meminimalkan potensi penularan. Meski lebih sepi dan disaksikan secara virtual, prosesi Manusuk Sima yang ditayangkan secara langsung melalui channel youtube Harmoni TV Kediri berjalan lancar dan khidmat.
Manusuk Sima sendiri merupakan sebuah peristiwa penting yang terjadi 1141 tahun lalu yang menunjukkan sejarah berdirinya Kota Kediri berdasarkan Prasasti Kwak yang ditemukan di Desa Ngabean, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Prasasti tersebut berangka tahun 801 saka atau tanggal 27 Juli 879 M. Makanya tanggal 27 Juli dijadikan sebagai Hari Jadi Kota Kediri.
Mengingat pentingnya nilai-nilai sejarah di dalamnya, ritual Manusuk Sima ini tetap dipertahankan dalam rangkaian peringatan HUT Kota Kediri meski sedang pandemi. “Melalui upacara adat ini, diharapkan kita senantiasa mengingat bagaimana dulu Kediri bisa berdiri, berkembang dan telah melewati banyak era kepemimpinan hingga kini,” terang Mas Abu.
Tahun ini Kota Tahu menginjak umur 1141 tahun yang artinya sudah tidak muda lagi. Diharapkan para penduduknya pun semakin dewasa, tidak mudah terpancing emosi oleh isu-isu dari luar, dan legowo dalam menghadapi kenyataan hidup. Seperti saat diterpa wabah corona tahun ini. Alih-alih kecewa dan putus asa, warga Kota Kediri harus selalu optimis dan terus berusaha dalam menghadapi tantangan hidup.
“Seperti saat ini. Yang seharusnya bisa berbahagia bersama, ada banyak hiburan yang diselenggarakan tapi karena wabah penyakit jadi acara-acaranya harus dihapus. Harapannya masyarakat mau bersabar,” tambahnya.
Di sisi lain, kedewasaan juga bisa ditunjukkan oleh sifat adaptif masyarakat. Teror COVID-19 yang mematikan banyak usaha yang dijalankan secara konvensional jangan hanya dirutuki saja. Para pelaku usaha justru harus berpikir solutif yakni beralih dengan berjualan secara digital. Apalagi saat ini 60 persen penduduk Kota Kediri adalah kalangan milenial. Mereka tidak seharusnya menjadi gagap dan bisa langsung menyesuaikan diri dengan memanfaatkan teknologi yang ada.
“Seperti pelaksanaan Manusuk Sima hari ini. Meski ini baru pertama kalinya dilaksanakan secara daring, diharapkan tidak mengurangi makna dan antusiasme warga karena tetap bisa dinikmati secara daring. Bahkan kali ini warga yang berada di perantauan juga bisa ikut menyaksikannya secara langsung,” tandasnya.
Terlepas dari banyaknya hikmah yang bisa didapatkan, Mas Abu berharap wabah corona ini bisa segera usai. Sehingga masyarakat bisa kembali saling berinteraksi dan bersilaturahmi dengan normal tanpa ada batasan dan kekhawatiran tertular virus ini. “Mari kita bersama-sama berdoa, agar pandemi Covid-19 segera diangkat oleh Allah SWT dari muka bumi,” pungkasnya.
