Para petugas penyalur bansos saat akan membagikan kartu sahabat tahap kedua. (Foto: Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sekretariat Daerah Kota Kediri)
Ketika warga melihat warga lainnya terbantu karena mendapatkan bansos berupa Kartu Sahabat dan beras 10 kg pada tahap pertama, warga yang belum mendapatkan bantuan dan belum terdata berbondong-bondong mendatangi RT dan RW maupun kelurahan untuk mendaftar secara mandiri.
“Ada kisah, warga yang tidak pernah nongol tahu-tahu menuntut haknya untuk mendapatkan bansos. Jadi seperti pendatang musiman, musim bansos,” kata Martono, perangkat kelurahan Burengan, Kecamatan Pesantren.
Beberapa warga memang ada yang KTP Kota Kediri namun domisili tidak di Kota Kediri. Menurut Martono, tak mudah dan perlu waktu untuk mengsinkronkan data sekian ribu penerima bansos agar tidak ada yang mendapatkan jatah ganda, sementara yang lain sama sekali tidak mendapatkan.
Kepala Dinsos Kota Kediri, Triyono Kutut mengungkapkan, RT/RW sempat pusing menghadapi warga yang tiba-tiba hadir ketika ada bantuan. Namun tetap didata sebab tidak ada larangan bahwa warga ber-KTP di Kota Kediri, tapi domisili tidak tetap. Warga yang demikian juga mendapatkan haknya termasuk Kartu Sahabat.
“Kalau masih KTP-nya berada di wilayah Kota Kediri, bantuan tetap masih bisa diberikan. Kalaupun pindah tapi masih di wilayah Kota Kediri pun masih tetap mendapatkan bantuan. Hanya nanti SPJ-nya yang perlu diperhatikan oleh perangkat kelurahan,” kata Kutut, Kamis (2/7/2020).
Di sisi lain, karena ada yang merasa tidak puas, kerap kali ada yang menelepon langsung ke Satgas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Kota Kediri. Mereka merasa berhak mendapatkan bansos namun tidak terdaftar. Bukannya langsung lapor ke RT/RW, tapi menelepon Call Center.
Tak hanya itu, ada yang langsung lapor ke Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar melalui media sosial. Memang, Walikota Kediri aktif memantau media sosial untuk mendengar keluhan warganya.
“Seharusnya RT/RW, perangkat kelurahan, Babinsa, Babinkamtibmas, dan warga sinergi, saling bantu dan koordinasi untuk menyelesaikan masalah. Tidak sedikit-sedikit lapor Pak Wali karena urusan Pak Wali sudah banyak,” kata Edi, Babinsa dalam sebuah koordinasi rapat dengan perangkat kelurahan.
RT/RW dan segenap jajaran bekerja keras untuk mensinkronkan data itu sehingga pemberian kartu Sahabat tahap kedua ini relatif lebih rapi dibanding tahap pertama.