SURYA.CO.ID I KEDIRI
Pemkot Kediri melalui Kantor Dinas Perdagangan dan Perindustrian memesan ribuan masker dari bahan kain tenun ikat Kelurahan Bandarkidul, Kota Kediri.
Kain tenun ikat itu biasanya dibuat baju, sepatu, scarf dan tas. Namun sekarang, kain tenun ikat itu dibuat masker yang merupakan produk yang belum pernah diproduksi sebelumnya.
Samsul Hadi, salah satu penjahit Rizki Taylor yang sudah 30 tahun menjadi penjahit, mengungkapkan sudah tiga minggu ini orderan sepi.
"Malah yang sudah order belum diambil, sehingga belum dibayar. Untunglah ada order pesanan masker," ungkapnya, Rabu (8/4/2020).
Karena mendapat order membuat masker, Samsul Hadi kembali mengoperasikan 4 unit mesin jahitnya. Ada pesanan 8.000 lembar masker yang harus diselesaikan.
Samsul mengerahkan 4 orang penjahit yang membuat masker di rumahnya. Selain itu, 12 orang lainnya mengerjakan pembuatan masker di rumahnya masing-masing. Para penjahit yang mulai sepi order, kini kembali beraktivitas.
Sedangkan Siti Ruqoyah, salah satu pengusaha kain tenun Medali Emas juga bernapas lega karena dapat menggaji para penenunnya.
Pembuatan masker itu bermula dari upaya uji coba membuat beberapa lembar masker dari kain sisa.
Selanjutnya masker dari kain tenun ikat diperlihatkan kepada Nur Muhyar, Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Kemudian contoh masker diperlihatkan kepada Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar.
Respons positif ditunjukkan wali kota dengan memesan 8.000 masker dari bahan kain tenun ikat untuk dibagikan kepada masyarakat.
Bukan hanya membagikan masker yang berguna untuk mencegah penyebaran virus Corona, namun juga turut menggerakkan perekonomian perajin kain tenun dan penjahit yang sempat berhenti.
Siti Ruqoyah mengatakan, sudah tiga minggu ini tidak ada pembeli kain tenun ikat sama sekali. Sementara setiap minggunya terus menggaji penenun.
"Saya akan terus mempertahankan mereka untuk tetap berproduksi agar tetap bisa makan,” ungkapnya.
Rata-rata Siti Ruqoyah harus mengeluarkan uang minimal Rp 20 juta per minggu untuk menggaji penenun. Jumlah itu biasanya bisa tertutup dengan hasil penjualan kain tenun.
Namun ketika tak ada pembeli, terpaksa mengambil tabungan.
Dengan pesanan masker 200 lembar tenun ikat per hari bisa terjual untuk dibuat masker sehingga ekonomi kembali berputar. Para penenun lainnya bisa memasok kain tenunnya melalui Kelompok Usaha Bersama sehingga produksi masih terus berjalan.
Setelah Pemkot Kediri memesan ribuan masker, berbagai pesanan datang dari berbagai instansi dan jumlahnya ribuan. Selain itu ada juga para pembeli personal atau eceran.
Masker kain tenun ikat dijual Rp 7.500 per lembar bila membeli minimal 10 lembar dan Rp 8.000 per lembar untuk harga eceran. Masker dari kain tenun ikat ini dibuat menarik serta dapat dipasang tisu di tengahnya sehingga dapat dipakai berulang kali dengan mengganti kertas tisu.