Serangan DBD di Kota Kediri Capai 72 Kasus, Ini Lho Kecamatan Yang Penderitanya Terbanyak

Kediri Dalam Berita | 15/08/2022

logo

Serangan DBD di Kota Kediri Capai 72 Kasus, Ini Lho Kecamatan Yang Penderitanya Terbanyak

- Minggu, 14 Agustus 2022 | 17:33 WIB
Petugas melakukan fogging untuk memberantas jentik nyamuk
X
 
Petugas melakukan fogging untuk memberantas jentik nyamuk
 

Kediri, koranmemo.com - Dinas Kesehatan (DinkesKota Kediri masih menemukan kasus demam berdarah dengue (DBD) hingga bulan Juli 2022. Serangan DBD mencapai 72 kasus.

Padahal saat ini, di Kota Kediri tengah memasuki musim kemarau, bahkan diprediksi puncak kemarau terjadi pada Agustus hingga September mendatang.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular (P2P) Dinkes Kota Kediri, Hendik Suprianto mengatakan, DBD masih tetap diwaspadai.

Meski telah memasuki musim kemarau, Dinkes Kota Kediri juga telah melakukan sejumlah pencegahan untuk mengatasi permasalahan DBD ini.

uari hingga Juni terdapat 70 kasus. Kemudian pada Juli ditemukan tambahan dua kasus. Totalnya sebanyak 72 kasus selama Januari hingga Juli tahun ini.

 

Tahun sebelumnya, 2021, penyakit yang disebarkan oleh nyamuk aedes aegypti ini menjangkit sebanyak 160 orang. Pada tahun 2020 dengan kematian satu orang.

Sedangkan pada tahun 2021 sebanyak 145 orang terjangkit dengan kasus terbanyak ada di bulan November, yaitu 65 kasus. 

“Sementara selama Januari hingga Juli 2022 kasus DBD mencapai 72 kasus dengan kasus terbanyak yakni saat musim hujan pada Februari,” ujarnya, Minggu

Ia menambahkan, kegiatan fogging sebagai antisipasi telah dilakukan di 40 lokasi yang tersebar di tiga kecamatan.

Dari Kecamatan Mojoroto, Pesantren dan Kota paling banyak dilakukan fogging yaitu di wilayah Mojoroto. “Ya memang karena Kecamatan Mojoroto adalah daerah paling rawan,” katanya.

Selain fogging, pencegahan yang harus tetap dilakukan adalah memberantas sarang nyamuk sehingga harapan nol kasus pada musim kemarau bisa tercapai.

Hal itu dilakukan dengan menguras tempat penampungan air, menutup penampungan air, serta mengubur atau mendaur ulang barang-barang bekas yang berpotensi menampung air. 

“Nutrisi bagi tubuh, pola hidup sehat, serta kebersihan rumah harus diperhatikan. Idealnya menguras bak mandi seminggu sekali. Kalau fogging itu seharusnya solusi paling terakhir,” ujarnya.

 

Terakhir, ia juga mengimbau agar warga yang terindikasi terserang DBD agar segera dibawa ke fasilitas kesehatan yang tersedia.

Dengan begitu bisa dilakukan penanganan yang cepat dan tidak menimbulkan dampak yang lebih fatal.