Peringati Hari Anak Nasional, Kampung Seni Kota Kediri Gelar Festival Anak

Kediri Dalam Berita | 28/07/2022

Peringati Hari Anak Nasional, Kampung Seni Kota Kediri Gelar Festival Anak

Rabu, 27 Juli 2022 - 11:55 |  14.55k
 

Peringati Hari Anak Nasional, Kampung Seni Kota Kediri Gelar Festival AnakPenampilan salah satu peserta dalam Festival Seni yang digelar di Kampung Seni Kota Kediri. (FOTO: Yobby Lonard/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, KEDIRI – Setiap anak di Indonesia memiliki hak sama untuk mendapatkan ruang untuk mengembangkan kreativitas. Dalam rangka perayaan Hari Anak Nasional, anak-anak dari Kelurahan Ringinanom, Kampung Seni Kota Kediri unjuk kreativitas dengan menggelar festival seni pada Minggu,(24/07/2022).

Anak-anak Kampung Seni kota Kediri secara bergantian mamamerkan bakat masing-masing mulai dari puisi, menyanyi, menari topeng dan tidak ketinggalan pentas drama.

"Itu ide dari anak-anak sendiri. Mereka brainstroming sendiri. Mereka dibebaskan memilih dan memang benar-benar itu bermula dari kreatifitas mereka.  Mereka sangat antusias dan tidak pernah ada yang absen selama latihan," tutur Kepala Kelurahan Ringinanom David Hendra Mawan. 

Menariknya, anak-anak Kampung Seni tidak hanya tampil sebagai pemeran. Ada anak yang bertugas mengurus kostum, perlengkapan sampai content creator.  David yang juga ikut ambil bagian pada festival seni itu sebagai Buto  menuturkan anak-anak Kampung Seni memang berbagi tugas dalam festival seni ini. Tugas itu sesuai dengan passion dan hobi masing-masing anak. 

Sekitar 25 anak berperan serta di festival seni  ini, mulai dari anak yang masih duduk di kelas 2 SD hingga yang sudah menginjak remaja dan belajar di bangku SMA kelas 2. Latihan dilakukan selama dua kali sepekan, dan ditambah saat menjelang pentas bersama para pegiat seni dan para mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang tengah melangsungkan Kuliah Kerja Nyata di Kampung Seni Ringinanom.

"Tidak ada yang mengeluh. Kita memang sudah membagi-bagi dan ini memang benar-benar dari passion mereka. Kita bagi. Jadi yang minat di konten creator siapa, yang pilih teatrikal siapa, ada divisi masing-masing," tambah David. 

Mereka yang memilih content creator bertugas mendokumentasikan penampilan teman-teman mereka , dan mengolahnya jadi konten menarik. Saat bertugas anak-anak itu tampak disiplin dan fokus pada tugas mereka. Drama yang ditampilkan sendiri mengusung cerita dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih serta drama dengan tema kehidupan berjudul "Anak Nakal." 

Di Kampung Seni Ringinanom, Kota Kediri setiap RT yang ada sudah terbagi menjadi tematik tertentu, seperti Kampung Dongeng atau Content Creator sehingga anak-anak ini tinggal memilih mana yang sesuai minat kreativitas mereka.

"Harapannya kita juga bisa mewadahi kreativitas mereka yang nantinya juga akan mengembangkan daya imajinasi, kreativitas, daya kognitif, gerak semuanya," tutur David.

 Bimbingan Mahasiswa UM 

Sementara itu Ketua Pelaksana sekaligus Ketua Kelompok KKN UM di Kelurahan Ringinanom Ahmad Rijal Alwi mengungkapkan pemilihan pementasan drama bukan tanpa sebab. Di Kampung Seni Ringinanom, seni drama masih minim dan saat ide tentang drama dilontarkan para mahasiswa ini, disambut dengan baik. 

"Masyarakat sini dari kesenian sudah,  jago semua, terus kalau musik mereka sudah paham semua. Memilih drama karena itu satu hal yang baru dan warga Ringinanom  terbuka dengan satu hal yang baru. Akulturasi mereka terbuka banget. Jadi budaya apa pun itu mereka terima tapi tetap di filter, yang sekiranya bagus dikolaborasikan," ungkap mahasiswa kelahiran 2001 ini.

Ahmad menuturkan sebelum tampil anak-anak tersebut mengikuti casting siapa yang nantinya menjadi bawang merah, bawang putih. Setelah terpilih para pemeran,latihan dilakukan sekaligus untuk mengisi waktu luang saat anak-anak libur sekolah.

Ahmad mengatakan ia dan para mahasiswa KKN yang lain tidak hanya mengajarkan bagaimana anak-anak itu harus tampil dengan baik, tapi juga bagaimana mengolah rasa dan kerja sama dengan baik saat pentas. 

"Mulai latihan blocking seperti apa vokalnya, ekspresi, emosinya seperti apa. Semakin dekat acara, latihannya semakin intens, semakin lebih serius. Dalam proses latihannya bukan seperti apa mereka harus tampil dengan baik di depan penonton, enggak. Yang dulu diutamakan bagaimana mereka bekerja sama dengan baik,melatih kecerdasan, kepekaan dan mengendalikan ego. Itu yang lebih ditekankan. Konsepnya sendiri juga dikonsultasikan dengan kelurahan dan tokoh masyarakat setempat," kata Ahmad. 

Melatih anak-anak, dengan antuasiame tinggi bukan hal yang mudah. Menurut Ahmad agar anak-anak itu bisa fokus, Ahmad dan para mahasiswa KKN UM lain mengemas latihan sambil bermain serta membebaskan anak-anak tadi berimprovisasi.

Para mahasiswa KKN UM sendiri dibagi menjadi beberapa job desk.  Ada yang mendampingi membuat script, latihan serta membantu berlatih membaca puisi.

"Kami buat kemasan latihannya dengan bermain. Mereka bebas berImajinasi bermain drama dengan ekspresi mereka masing-masing mereka dibebaskan berekspresi seperti apa, tergantung mereka. Tidak dibatasi mereka mau berekspresi seperti apa namun dengan acuan sesuai naskahnya, mau diimprovisasi silakan tapi jangan terlewat dari naskah yang sudah kita sepakati," tambah Ahmad lagi. 

Selain Ahmad, di Kampung Seni Ringianom terdapat 10 mahasiswa UM lain yang menjalankan KKN. Diharapkan dengan bantuan serta bimbingan kelompok KKN mahasiswa UM ini, regenerasi seniman di Ringinanom bisa terus berlanjut. Saat ini sendiri warga Ringinanom sudah sangat pandai dalam membuat konsep seni, tinggal bagaimana merangkai konsep itu menjadi sebuah karya nyata. 

"Keseniannya terus diangkat dan acara ini adalah bentuk regenerasi bahwa anak-anak itu sebagai penerus dari tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh tua terutama suatu saat nanti mereka bakalan jadi generasi yang akan menjaga kearifan lokal Kampung Ringinanom.  Masyarakat sendiri semua sudah menguasai konsepnya, tinggal bagaimana merangkainya,mempublikasikannya, mendokumentasikannya, kemudian mengenalkan bahwa mereka punya ide dan kesenian yang sangat bagus itu masih sedang dicari cara yang terbaik," kata mahasiswa asal Lombok, Nusa Tenggara Barat ini.