
Kediri, koranmemo.com - Dinas Pendidikan Kota Kediri mengingatkan agar tidak ada kegiatan perpeloncoan selama masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Ini termasuk larangan penggunaan atribut yang berlebihan kepada para siswa baru.
“Kalau misalnya nanti ada sekolah melakukan peloncoan, maka kami akan tidak lanjuti, dan kami berikan teguran kepada sekolah yang melakukannya,” ujar Ibnu Qoyyim Kasi Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Kediri, Senin (18/7).
Pihaknya juga akan melakukan pemantauan ke setiap satuan pendidikan untuk memastikan hal ini tidak sampai terjadi. Menurutnya, MPLS harusnya menjadi momen yang menyenangkan bagi peserta didik baru dengan mengakrabkan diri dengan lingkungan sekolah.
Ia meminta, agar semua sekolah yang ada di Kota Kediri dalam pelaksanaan MPLS berpedoman pada petunjuk teknis yang sudah diberikan.Selain itu juga berpegang pada aturan Permendikbud, termasuk menghindari peloncoan pada para peserta didik baru.
“Peserta didik baru juga harus diajarkan bagaimana cara tertib berlalu lintas, tentang bahaya narkoba, ataupun yang lainnya. Hal itu untuk mencegah kenakalan remaja sejak dini, selain itu juga merdeka belajar bisa diterapkan untuk anak-anak sekolah menengah sehingga mereka punya pengalaman dan bisa juga diisi dengan kegiatan-kegiatan yang lebih kreatif agar lebih menyenangkan,” terangnya.
Sementara itu, Guru Bimbingan Konseling SMPN 6 Kota Kediri Budi Pramono mengatakan, pihaknya melaksanakan MPLS selama tiga hari mulai Senin (18/7) hingga Rabu (20/7). Selama MPLS, para peserta didik yang baru dikenalkan dengan lingkungan sekolah. Kegiatan ini juga dilakukan dengan pendekatan yang menyenangkan bagi siswa.
“Selain fokus pengenalan lingkungan kami juga membangkitkan motivasi belajar siswa karena sudah dua tahun belajar di rumah akibat pandemi,” ungkapnya.
Pelaksanaan kurikulum baru yaitu merdeka belajar mulai diterapkan untuk siswa kelas 7. Pada MPLS ini, pihaknya juga telah bekerjasama dengan pihak ketiga untuk memberikan sejumlah tes kepada para siswa.
“Kami lakukan tes bakat minat, tes kecenderungan profesi anak, dan tes untuk mengetahui metode belajar anak ini seperti apa,” ujarnya.
Ia menambahkan, tes tersebut sesuai dengan penerapan kurikulum baru ini. Perbedaan dari kurikulum baru ini sendiri adalah dengan adanya proyek yang dikerjakan oleh para siswa dalam setiap mata pelajaran.
“Misalkan pada pelajaran seni budaya ada alokasi 3 jam, maka yang satu jam akan dialokasikan untuk mengerjakan proyek tersebut,” pungkasnya.
Reporter : Ahmad Bayu Giandika
Editor : Achmad Saichu