
Kediri, koranmemo.com - Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Kediri menggelar sosialisasi ‘Kota Sehat Tanpa Sampah’, Selasa (7/6).
Kegiatan TP PKK Kota Kediri ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman dalam meminimalisir sampah dari lingkup terkecil yaitu keluarga.
“Targetnya kita bisa meminimalisir sampah dari titik terkecil. Apa yang telah disampaikan oleh pemateri agar segera diaplikasikan,” ujar Ketua TP PKK Kota Kediri, Ferry Silviana Abdullah Abu Bakar.
Ia menambahkan, membiasakan masyarakat dalam mengurangi jumlah sampah dan memilah sampah yang dihasilkan memerlukan waktu dan pembiasaan. Untuk itu perlu adanya pendampingan serta edukasi yang dilakukan secara berkala.
Wilma Chrysanti, salah satu pemateri mengatakan, dalam melihat permasalahan sampah ini perlu ditanggulangi dari hulu hingga ke hilir. Ia juga menjelaskan strategi yang patut dilakukan pada skala terkecil yaitu di rumah.
“Kami jelaskan prinsip rumah minim sampah dengan strategi 3 pintu, pintu depan, tengah, dan belakang,” ujar Wilma.
Ia menjelaskan, pintu depan itu adalah apa yang dilakukan sebelum kita memproduksi atau mengkonsumsi sesuatu.
Pada tahap ini telah bisa meminimalisir sampah dengan memilih barang atau alternatif yang setelahnya tidak menimbulkan sampah.
Kemudia pintu tengah, itu adalah strategi yang dilakukan saat kita memproduksi ataupun mengkonsumsi sesuatu.
Pada tahap ini dahulukan apa yang sudah ada, sehingga meminimalisir membeli yang baru.
“Selain itu juga ketika sedang makan, habiskan makanan yang diambil. Sehingga tidak menyisakan makanan dan menimbulkan sampah,” ujarnya.
Terakhir adalah strategi pintu belakang, ini adalah tahapan setelah proses produksi dan konsumsi.
Sampah yang dihasilkan ini perlu dipilah, sampah yang masih bisa manfaatkan agar dipisahkan.
Dengan begitu sampah bisa didaur ulang atau dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, seperti bisa dijadikan kompos.
Ia juga mengatakan, strategi ini sudah diuji coba di sejumlah kota, di antaranya Jakarta, Tangerang Selatan, dan Banjarmasin.
Berdasarkan uji coba ini dampak yang dirasakan adalah pengurangan sampah yang diproduksi minimal 40 persen.
“Strategi ini telah dilakukan di 26 komunitas RW dan warga di Jakarta, Tangerang Selatan, dan di Banjarmasin. Eksperimen bersama warga itu dalam tantangan 7 sampai 14 hari rumah minim sampai itu terjadi pengurangan antara 40 persen sampai dengan 90 persen,” ungkapnya.
Adi Wibowo, pemateri lain mengatakan, apa yang telah disampaikan kepada para peserta ini harapannya bisa diaplikasikan, minimal pada lingkungan keluarganya.
Ketika cara ini sudah diaplikasikan dalam lingkup yang terkecil maka bisa diterapkan pada lingkup yang lebih besar.
“Kami mencoba memberikan bayangan bagaimana setelah individu dan keluarga tahu bagiannya itu bisa ditingkatkan ke skala yang lebih tinggi. Mulai dari lingkungan terdekat, RT, RW, sampai kemudian harapannya bisa sampai lingkup kota,” ujar Adi.
Ia juga mengatakan, dengan strategi tiga pintu itu tadi juga diharapkan mampu menjawab tantangan pemerintah dalam mengurangi sampah.
Pemerintah menargetkan pengurangan 30 persen sampah yang dihasilkan, sedangkan dari uji coba yang dilakukan sudah menunjukan ada pengurangan sebesar 40 persen minimum.
“Ini kan sudah mampu melampaui yang sudah dicanangkan. Seharusnya kita bisa mencapai, tinggal bagaimana berkomitmen sehingga dapat mencapai angka itu,” pungkasnya.
Reporter : Ahmad Bayu Giandika
Editor : Gimo Hadiwibowo