Inovasi Kreatif Saat Pandemi, Omzet UMKM Produksi Camilan Stick Ikan Sidat di Kediri Meningkat

Kediri Dalam Berita | 09/02/2022

Surya.co.id

 
SURYA.CO.ID/Didik Mashudi
 
Camilan stick ikan sidat dikemas dalam bungkus aluminium foil sehingga dapat tahan lama. 
 

SURYA.CO.ID, KEDIRI - Pandemi Covid-19 bukan penghalang untuk melakukan inovasi produk yang kreatif. Seperti dilakukan pasangan suami istri Roosita Septaningtias (42) dengan Abdi Asmara (42), saat pandemi sukses merintis bisnis UMKM camilan Stick Ikan Sidat.

Dalam beberapa bulan terakhir volume produksi dan omzet bisnisnya terus meningkat. Permintaan pasar kue camilan Stick Ikan Sidat juga terus meluas dan mengalami peningkatan.

Bahkan, pesanan juga merambah sejumlah kota di Bali dan Kalimantan.

Warga Perumahan Villa Bukit Mentari, Kota Kediri itu saat ini tengah menunggu hasil sertifikasi halal dari MUI dan hak kekayaan intelektual (Haki) supaya produknya dapat masuk toko dan pasar swalayan modern.

Ikan sidat yang memiliki nama ilmiah anguilla marmorata punya kandungan nutrisi gizi yang tinggi. Kandungan Omega 3, 6 dan 9 EPA DHA ikan sidat melebihi dari ikan salmon, tengiri dan gabus.

Sementara, komposisi kandungan dari stick ikan sidat terdiri dari tepung terigu, tepung tapioka, mentega, daging ikan sidat, telur, keju, bawang putih, garam dan penyedap rasa.

Roosita Septaningtias menuturkan, sebelum menekuni bisnis camilan stick ikan sidat, biasa membuat jajanan kue kering seperti nastar, stick keju dan kastengel. Namun bisnisnya terdampak pandemi Covid-19 sehingga sepi order.

Karena bisnis camilan kue kering sepi pesanan, selanjutnya mulai mencoba inovasi membuat stick ikan sidat. Kebetulan suaminya punya usaha budidaya ikan sidat. Karena saat pandemi juga mengalami kesulitan untuk mengirimkan dan menjual ikan sidat keluar daerah karena ada PPKM.

"Kami mencoba berinovasi membuat produk yang bagus dan laku di pasaran. Saya terinspirasi stick ikan sidat, sehingga saya campurkan ikan sidat dalam adonan stick," jelas Roosita, Selasa (8/2/2022).

Awalnya produknya hanya rasa original. Kemudian berkembang selain original juga rasa pedas manis dan barbeque. Di pasar sendiri sejauh ini belum ada camilan stick ikan sidat.

"Pemasaran awal hanya melalui online untuk sejumlah teman. Setelah produk dipasarkan mendapatkan respons pasar yang bagus, karena ikan sidat memiliki kandungan gizi yang tinggi," jelasnya.

Kandungan gizi omega 3 ikan sidat melebihi dari ikan salmon dan sirip ikan hiu. Sehingga banyak mendapatkan respons bagus serta dapat dipasarkan lebih luas lagi.

Bahkan pemasaran saat ini tidak hanya di Kota Kediri, tapi telah merambah ke Kota Nganjuk, Jombang, Sidoarjo, Malang serta Surabaya.

"Bahkan banyak permintaan dari Kota Jakarta dan Bandung," tambahnya.

Sedangkan awal 2022, produk stick ikan sidat telah merambah keluar Jawa, seperti di sejumlah kota di Kalimantan dan Bali.

"Harapan saya bisa mengenalkan stick ikan sidat kepada masyarakat," jelasnya.

Selama ini, ikan sidat lebih banyak diekspor sehingga dikenal dan dikonsumsi masyarakat di luar negeri.

Ikan sidat yang banyak mengandung gizi juga bisa dikonsumsi untuk anak bangsa.

Stick Ikan Sidat dijual dengan harga yang cukup terjangkau di masyarakat, sebungkus Rp 15.000 isi 75 gram.

Selama ini, ikan sidat tergolong ikan yang cukup langka di pasaran dengan harga jual yang lumayan mahal. Di pasaran Indonesia harga ikan sidat mencapai Rp 160.000 sampai Rp 180.000 per kg.

Bahkan, harga ikan sidat di Jepang dan Korea telah mencapai Rp 2 jutaan per kg. Sehingga ikan sidat hasil budidaya peternak ikan sidat banyak diekspor ke luar negeri.

Roosita sejauh ini tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan bahan baku ikan sidat, karena suaminya juga melakukan budidaya sendiri sekaligus juga pengepul ikan sidat.

"Banyak komunitas petani ikan sidat yang memasok," jelasnya.

Tidak ada artikel terkait