Mengenal Federik Komunitas Pencinta Sepeda Federal Kediri

pemuda & olahraga |

Radar Kediri | Berita Kediri | Berita Utama

02-boks FederalForRadar (2)

Komunitas pencinta sepeda ini agak berbeda dengan yang lain. Gengsi pemiliknya tidak dipandang dari harga dan desain sepedanya. Namun Federik justru menghargai nilai sejarah kenangan sepeda itu dengan pemiliknya. Seperti apa?

DINA ROSYIDHA

Anti mainstream, kata itulah yang tergambar dari sosok-sosok dalam komunitas  pencinta sepeda Federal Kediri. Jika yang lain berlomba-lomba mencari kendaraan terbaru dan canggih, para pencinta sepeda gunung “jadul” ini justru berbeda.

“Kami ingin bernostalgia dengan kenangan masa kecil,” terang Arief Priyono, anggota Federik (Federal Kediri), komunitas pencinta sepeda ini.

Seperti yang dilakukan Arief, Kamis kemarin (2/6). Saat ditemui Jawa POs Radar Kediri, pemuda asal Kelurahan Bence, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri ini terlihat bersemangat menaiki sepedanya jenis Federal Alpenz Peak. Dia melintas Jalan Veteran, Kelurahan Mojoroto.

“Ada setidaknya 30-an orang yang sering berkumpul untuk sepedaan,” tambah pria 34 tahun tersebut.

Dalam komunitas pencinta  Federal, bukannya bagus-bagusan sepeda yang menjadi kebanggaan para anggotanya. Namun yang menjadi nilai plus dari sepeda adalah cerita di balik sepeda itu dan seberapa lama menemani pemiliknya.

“Semakin dramatis ceritanya semakin menambah nilai keren sepedanya,” tambah pemuda asli Pati, Jawa Tengah tersebut

Seperti kebanyakan anak-anak, sejak kecil Arief mendambakan sepeda Federal. Sayang, keinginan itu tidak juga terpenuhi karena keluarganya dalam kondisi pas-pasan. Makanya saat itu, dia hanya dijanjikan akan dibelikan setelah dikhitan.

“Kalau habis sunatan kan dapat uang, tetapi ternyata tetap tidak cukup,” kenang anak kedua dari tiga bersaudara tersebut.

Hingga akhirnya pada 2012, Arief baru bisa mewujudkan keinginannya. Menggunakan uang hasil kerjanya sebagai fotografer, dia akhirnya bisa membeli sepeda yang sudah tidak diproduksi sejak 1994 silam. “Meski ada uang, mencarinya tidak mudah,” urai penggemar sepeda ini.

Selama empat bulan, Arief bersusah-payah mengunjungi bengkel sepeda satu per satu. Sampai akhirnya bapak satu anak ini mendapatkannya di salah satu pasar di Kota Kediri. “Akhirnya saya dapatkan Federal jenis Mount Everest seperi yang saya inginkan,” tambahnya.

Kali pertama menaiki sepeda impiannya, Arief merasa sangat terharu. Sebab, lebih dari 20 tahun dirinya mengidam-idamkannya. Dari berbagai jenis sepeda Federal, pria yang menjadi founding father Federik ini lebih menyukai sepeda yang terkesan vintage. Sepeda ini bisa diandalkan untuk kegiatan sehari-hari. “Dulu punya banyak, sekarang cukup satu saja agar mudah dikenali orang,” ujarnya.

Kini tidak susah mendapatkan spare part atau sepeda yang baru. Karena saat ini sudah ada media sosial dan online sehingga memudahkan para pencintanya untuk mendapatkannya. “Saya biasanya memang beli online,” urainya.

Secara berkala, Arief bersama para anggota Federik melakukan kumpul-kumpul. Yang terakhir adalah aktivitas Jambore Nasional yang digelar di bantaran Sungai Brantas, Kota Kediri pada 20-22 Mei 2016. Selain di sana, kamp mereka juga di kawasan wisata air terjun Dolo, Dusun Besuki, Desa Jugo, Mojo.

Dalam setiap kegiatan tidak ada sekat di antara anggotanya, meski berasal dari status sosial yang berbeda. “Kita biasanya saling memanggil dengan panggilan om atau tante,” paparnya.

Kini jumlah pencinta sepeda Federal semakin bertambah. Bahkan di akun facebook (FB)-nya sudah mencapai 300-an anggota. Sebagian memang belum memiliki sepeda Federal. Hanya saja dengan menyatakan gabung dengan grup yang terbentuk sejak 2013 tersebut menandakan bahwa mereka juga menyukai sepeda keluaran PT Federal Cycle Mustika tersebut.

“Ada yang sudah berkeinginan tapi memang belum memiliki,” pungkasnya.(ndr)