Santripreneur untuk Tumbuhkan WUB di Pondok Pesantren

informasi | 05/09/2019

Setelah tahun 2018 lalu menyelenggarakan program Santripreneur di lingkungan Ponpes Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, tahun ini Kementerian Perindustrian melalui Ditjen Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) kembali menggelar program serupa di Kota Kediri. Program Santripreneur ini ditujukan untuk menumbuhkan wirausaha industri baru dan pengembangan unit usaha berbasis pondok pesantren.

Kali ini, Ponpes Wali Barokah terpilih sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan Bimbingan Teknis Wirausaha IKM Pengolahan Roti yang diselenggarakan selama 4 (empat) hari, 3 – 6 September 2019 dengan peserta para santri di lingkungan Ponpes. Bimtek diawali dengan materi kewirausahaan yang diikuti 100 orang peserta. Kemudian untuk materi teknis produksi pengolahan roti, Good Manufacturing Process (GMP) dan kemasan diikuti oleh 20 orang peserta.

Seusai kegiatan Bimtek nanti, pihak Kemenperin juga akan memberikan bantuan berupa mesin / peralatan pengolahan roti kepada Ponpes Wali Barokah. Untuk memberikan pemahamaman bagi peserta terkait aspek keamanan pangan, narasumber dari Dinas Kesehatan Kota Kediri juga dihadirkan dalam kegiatan Bimtek.

Dirjen IKMA, Gati Wibawaningsih dalam kunjungannya ke Kota Kediri pada Kamis (5/9) menekankan besarnya potensi yang dimiliki oleh pondok pesantren. “Dengan jumlah lembaga ponpes dan santri yang cukup besar di Kota Kediri, pondok pesantren memiliki potensi yang strategis untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional, salah satunya melalui penumbuhan wirausaha industri baru di kalangan para santri,” jelasnya. 

Pada kesempatan yang sama, Kepala Disperdagin Hj. Yetty Sisworini menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Kediri menyambut baik pelaksanaan program santripreneur yang linier dengan salah satu program unggulan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Kediri Tahun 2019 – 2024, yaitu penciptaan 15.000 wirausaha baru. Sementara di tataran provinsi, program ini sangat selaras dengan harapan Pemprov Jawa Timur untuk mewujudkan One Pesantren One Product (OPOP).