Bagi-Bagi Sembako ke Panti Sosial dan Vaksinasi Covid-19 di HUT Kota Kediri ke 1142

Kediri Dalam Berita | 28/07/2021

Surya Malang

 
Pemkot Kediri
 
Kegiatan Peringatan HUT Kota Kediri ke-1.142 ditandai dengan pembagian sembako dan masker ke panti sosial di Kota Kediri, Selasa (27/7/2021). 
 

SURYAMALANG.COM | KEDIRI - Ada yang berbeda dalam pelaksanaan upacara Manusuk Sima peringatan HUT Kota Kediri ke-1.142 pada, Selasa (27/7/ 2021). 

Jika biasannya kegiatan digelar di  lokasi yang menjadi dasar penetapan HUT Kota Kediri yakni Prasasti Kwak di Taman Tirtoyoso Kwak Kota Kediri, kali ini kegiatan dilakuan secara virtual.

Bahkan Gunungan yang berisi polo pendem hasil bumi yang biasannya diperebutkan usai pelaksanaan upacara Manusuk Sima pun ditiadakan. 

Langkah ini diambil untuk memutus mata rantai Covid-19 di Kota Kediri.

Apalagi pemerintah memperpanjang PPKM Level 4 hingga 2 Agustus 2021.

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar menjelaskan, HUT Kota Kediri ke-1.142 tahun 2021 dilakukan secara virtual.

Sebab memang dalam aturan seluruh gelaran kebudayaan dilarang dilakukan seperti biasanya. 

"Polo pendem hasil bumi yang diperebutkan usai acara ditiadakan dan diganti dibagikan ke lembaga sosial dan juga lewat Sinergi untuk Jaring Pengaman Sosial (Si Jamal),” jelasnya. 

Beberapa Lembaga yang menerima bantuan berupa 1.000 masker dan 142 hasil bumi ( polo pendem)  antara lain Si Jamal bertempat di Command Center di Pemkot Kediri, selanjutnya akan dibagikan untuk warga yang isolasi mandiri. 

Kemudian Panti Lansia An-Nuur, Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren.

Dan Panti Lansia Yoseph  di Kelurahan Dandangan, Kecamatan Kota Kediri.

Selain itu juga dilakukan vaksinasi dalam rangka memperingati hari HUT Kota Kediri ke-1.142 dengan jumlah peserta  1.142. Rinciannya, 700 sasaran di Hutan Kota Joyoboyo dan 442 di Taman Sekartaji untuk anak usia 12 tahun keatas.

Diungkapkan Walikota, Manusuk Sima sudah menjadi tradisi tahunan, untuk menghormati para leluhur pendiri Kediri, sehingga  tidak bisa dihapus dari rangkaian hari jadi.

Karena nilai-nilai yang terkandung dalam Upacara Manusuk Sima menjadi pengingat atau tetenger,  bahwa ada masa awal ketika Kediri ditetapkan menjadi sebuah wilayah perdikan, yang berdiri dan tetap bertahan hingga sekarang. 

“Kota Kediri ini sudah sangat tua, sudah memasuki usia ke 1.142 tahun. Kota ini telah melewati banyak era kepemimpinan, mulai dari zaman kerajaan, penjajahan, pasca kemerdekaan hingga era kepemimpinan saya,” jelasnya.

Sementara Drs H Nur Muhyar, Kepala Disbudparpora Kota Kediri menyatakan, meski dilakukan secara virtual namun hal ini tidak mengurangi kekhidmatan kegiatan Hari Jadi Kota Kediri. 

“Penyelengaraan HUT Kota Kediri secara virtual  karena memang mengikuti perkembangan Covid-19. Apalagi situasi masih PPKM Level IV. Masyarakat tetap bisa menyaksikan di  Instagram @kediritourism dan juga chanel youtube Kediri Tourisme TV,” jelasnya.

Nur Muhyar menambahkan, cukup bersyukur bisa tetap melakukan peringatan upacara Manusuk Sima secara virtual.

Hal ini sekaligus tetap menjaga kebudayaan-kebudayaan luhur di tengah keberagaman, modernisasi, dan kemajuan teknologi. 

Di antara semua itu, pihaknya tetap bisa mempertahankan budaya Kediri dengan melakukan prosesi Manusuk Sima.

“Dengan kegiatan ini mudah-mudahan bisa jadi inspirasi dan kebanggan warga Kota Kediri yang namanya besar ini. Terlebih untuk kemajuan kota ini,” ungkapnya.

Upacara Manusuk Sima merupakan sebuah peristiwa penting yang terjadi 1.142 tahun lalu menunjukkan sejarah berdirinya Kota Kediri  berdasar Prasasti Kwak.

Prasasti ini ditemukan di Desa Ngabean, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.

Dalam prasasti berangka tahun 801 saka atau tanggal 27 Juli 879 M.

Untuk itu setiap tanggal 27 Juli diperingati Hari Jadi Kota Kediri.

Ritual Manusuk Sima bertujuan agar dijauhkan dari berbagai bentuk bencana.

Rangkaian ritual ini ditandai dengan pembacaan mantera dan pembakaran kemenyan oleh sang makudur atau sesepuh adat. 

Selanjutnya prosesi tumbal bumi yakni pemotongan ayam cemani atau ayam hitam, memecah telur dan menaburkan abu.

Ritual ini memiliki makna siapapun mereka yang berani melanggar sabda alam akan mendapat malapetaka.