Kediri, koranmemo.com – Kenaikan harga kedelai mulai akhir Desember 2020 membuat tempe menjadi 10 besar penyumbang inflasi daerah di Kota Kediri. Dari inflasi sebesar 0,28 persen pada Desember lalu, harga tempe memiliki andil sebesar 0,010 persen.
Kasi Statistik dan Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri, Adi Wijaya menjelaskan selama harga tempe mengalami kenaikan imbas harga kedelai impor yang melambung.
“Kenaikan harganya 2,16 persen dari harga normal. Sumbangan inflasi karena kenaikan harga kedelai pada tempe memang lebih tinggi dibandingkan tahu. Harga tahu susah naik, jika kedelai tidak benar-benar langka,” katanya.
Dengan sumbangan ini, menurutnya bulan depan inflasi pada komoditas yang berbahan dasar kedelai bisa kembali menjadi 10 besar penyumbang inflasi daerah tertinggi. Kota Kediri yang mengandalkan distribusi dari luar daerah sangat terpengaruh jika ada komoditas yang mengalami kelangkaan.
Jika dilihat dari Kota Kediri Dalam Angka 2020, data BPS Kota Kediri tahun 2019, Kota Kediri bisa memproduksi kedelai sebesar 9,84 ton dari luas lahan 5,80 hektare. Tapi hasil tersebut lebih kecil dibanding tahun 2018 dengan panen sebanyak 11 ton dari luas lahan sebesar 4,8 hektare.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri, Mohamad Ridwan menjelaskan kedelai kurang populer bagi petani di Kota Kediri. Selain itu penanaman komoditas ini hanya dilakukan 1 kali dalam 1 tahun ketika musim kemarau saja.
“Petani yang menanam kedelai di Kelurahan Ngampel dan Kelurahan Gayam, hasil panen biasanya 2 sampai 3 ton per hektarnya. Kecenderungan kedelai yang ditanam di Kota Kediri bukan untuk tahu tempe, tapi dijual menjadi kedelai rebus yang masih ada kulit dan tangkainya seperti yang dijual di pasar,” paparnya.
Menurutnya karakteristik kedelai lokal tidak kalah dengan kedelai impor, hanya saja tidak memiliki kriteria yang sesuai dengan keinginan produsen tahu dan tempe. Selain itu harganya juga lebih mahal dari kedelai impor jika dibandingkan ketika harga sedang dalam keadaan normal.
“Banyak jenis kedelai dan setiap daerah bisa menanam, tapi kebanyakan kedelai Indonesia seperti kedelai hitam lebih diperuntukan sebagai bahan dasar kecap. Jika harga kedelai impor normal pun harganya lebih mahal, sekitar Rp 8.500 sampai Rp 10 ribu per kilogram,” imbuh Ridwan.
Lebih lanjut Kepala Bidang Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kota Kediri, Ita Sachriani menjelaskan menurut Kementerian Pertanian kedelai termasuk komoditas pertanian utama yang menjadi perhatian. Ada program bantuan bibit ke daerah tapi hanya pada sentra-sentra pertanian kedelai saja. Selain itu, Ita menuturkan jika benih kedelai transgenik atau rekayasa genetika tidak cocok ditanam di lahan Indonesia.

