Kediri, koranmemo.com – Produsen tahu di Kabupaten Kediri di saat Pandemi Covid 19 paling terpukul terkait kenaikan harga kedelai impor yang berkisar Rp 9000 – Rp 10.000 per kilogram sejak bulan lalu. Sebelumnya harga kedelai impor di kisaran Rp 6700 hingga Rp 7.600 per kilogram. Kedelai impor dipilih untuk bahan produksi tahu karena kualitasnya bagus.
Jika dibanding kedelai lokal beda jauh dari sisi harga ataupun kualitasnya. Karenanya perusahaan tahu lebih memilih kedelai impor. Penurunan jumlah produksi terjadi di perusahaan milik Gatot Siswanto (40) pengusaha tahu warga Dusun Besuk Desa Toyoresmi Kecamatan Ngasem ini.
Untuk produksi tahu takwa miliknya, sehari biasanya hingga 300 kilogram, saat ini per hari hanya produksi 150 kilogram.
Sementara biasanya kebutuhan satu bulan 12 ton kedelai impor. Namun saat pandemi dan harga kedelai naik jumlah pembelian kedelai menurun hingga Rp 9 ton per bulan.
Hal ini berpengaruh juga ke harga, jika sebelumnya harganya Rp 27.000 per 10 biji kini harganya Rp 28.000 per 10 biji tahu. Gatot selama ini tidak mengurangi ukuran tahu namun manaikkan harga hingga Rp 1000.
“Sudah hampir dua bulan ini harga kedelai impor naik. Selama ini kami memilih kedelai impor karena lebih bersih dan berkualitas. Lebih memadatkan tahu yang kita buat selama ini dan banyak digemari oleh konsumen. Harga kedelai naik penyebab lainnya adalah di tingkat lokal tidak ada panen kedelai,” ujarnya.
Ditambahkan Gatot, dari hal inilah akhirnya yang paling mudah ditempuh pengusaha tahu dengan membeli kedelai impor. Sekalipun harga mahal namun karena sudah terbiasa dengan kedelai impor harga mahalpun tetap dibeli untuk kualitas tahu yang diproduksi agar konsumen tidak kecewa.
“Kita tetap berproduksi di tengah Pandemi Covid 19 dan harga kedelai naik. Kita berharap kepada Pemkab Kediri bisa memberikan solusi terkait dengan kenaikan harga kedelai untuk kelompok home industry tahu di Kabupaten Kediri,” katanya.

