Batik Topeng Panji Kediri, Kenalkan Sejarah dan Budaya Kediri Melalui Batik

Kediri Dalam Berita | 05/10/2020

Kediri, koranmemo.com – Hari batik nasional mengingatkan kembali warga Indonesia agar bangga dengan kain tradisional yang sudah diakui sebagai warisan dunia. Momentum ini tidak hanya untuk diperingati dengan memakai batik saja, tetapi juga berkreasi mengembangkan motif. Seperti Ida Sulistyawati, warga Perumahan Wilis Indah 2 Kelurahan Pojok Kecamatan Mojoroto Kota Kediri, sejak 4 tahun lalu wanita ini mulai mengembangkan motif Topeng Panji yang bertujuan agar bisa menjadi wastra khas Kota Kediri.

Nama perempuan yang bekerja sebagai guru seni rupa di SMK PGRI 1 Kota Kediri ini memang tidak begitu dikenal. Tidak seperti suaminya, Jamran, pematung yang sudah terkenal di wilayah Jawa Timur khususnya Kota Kediri. Meski pada bidang seni tidak begitu terkenal dibanding suaminya, Ida memiliki karya yang dituangkan pada kain batik. Dia memilih menggambar Topeng Panji sebagai kreasi sekaligus mengenalkan budaya asli Kediri kepada masyarakat luas.

Ketika ditemui di rumahnya, wanita lulusan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya ini menjelaskan, saat kuliah sebenarnya dia sudah mempelajari dasar batik. Namun ketika lulus, dia tidak langsung mencoba mengaplikasikan seninya di kain batik. Baru sekitar tahun 2014 dia mulai mendalami batik melalui pelatihan yang diadakan oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Kediri.

 

“Saya sempat vakum 2 tahun dan baru mulai tekun lagi pada tahun 2016,” tukasnya.

Karena sudah memiliki dasar seni rupa, membuat sketsa dan mencanting malam pada kain memang sudah tidak begitu sulit baginya. Justru dalam hal pewarnaan menurutnya yang menjadikan pembuatan batik menjadi sangat sulit. Tapi tantangan itulah yang membuat guru seni ini malah mencintai batik dan menekuninya sebagai profesi sambilan selain mengajar siswa dan siswi di sekolah.

“Hasil akhir pewarnaan batik itu sulit ditebak. Kadang ketika kering warna yang kita inginkan bisa menjadi lebih bagus dari perkiraan dan juga sebaliknya. Itu awalnya membuat saya mulai menekuni batik,” katanya.

Dalam beberapa pelatihan yang dia ikuti, salah satunya di Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB), dia sempat mempelajari berbagai cara termasuk pewarnaan. Dari sana, dia mempelajari beberapa faktor penting untuk pewarnaan. Seperti kandungan air, lama pencelupan, dan bahan pewarna yang digunakan.

“Nah kemarin ada yang tanya kenapa warna batik Madura bisa cerah, kalau penjelasan dari pemateri air di Madura itu mengandung kapur tinggi. Berbeda dengan Kota Kediri,” imbuh Ibu 2 anak ini.

Selanjutnya, mengenai pemilihan Topeng Panji sebagai gambar batik buatannya, Ida terinspirasi karena dia juga tergabung dalam Rumah Panji, perkumpulan seniman Kota Kediri. Selain itu, Panji sendiri merupakan cerita lama yang sudah terkenal dan berasal dari Kediri. Jadi di dalam batik karyanya, terkandung nilai budaya dan sejarah.

Tidak asal menggambar, Ida juga melakukan pengetahuan, riset, dan referensi mengenai Topeng Panji, sebelum dia aplikasikan ke dalam batik.

“Jadi saya juga berdiskusi dengan budayawan dan seniman yang mengerti soal sejarah Topeng Panji. Apa yang membedakan dengan daerah lain, selama ini kan yang terkenal Topeng Malangan. Kalau saran dari seniman dan budayawan adalah Topeng Panji Kediri memiliki ciri khas pada mahkota. Dari situ saya mencari referensi mahkota yang pernah ditemukan di Kediri dan itu jadi variasi topeng pada gambar di batik saya,” papar Ida.

Setelah mengaplikasikan Topeng Panji pada batik, dalam setiap pameran yang dia ikuti selalu ada pertanyaan ‘Apa gambar yang ada di batik tersebut? Kenapa dijadikan batik? Dari mana inspirasi itu berasal?’

Pada saat itu, Ida menjelaskan jika Topeng Panji ini adalah sebuah cerita terkenal dan di relief candi di Kediri. “Melalui batik ini saya bisa mengenalkan daerah saya, saya kecil sudah di memang sudah di Kota Kediri. Ibu saya dari Surabaya sehingga saya lahir di sana. Banyak orang yang tertarik dan akhirnya saya bercerita mengenai Topeng Panji,” ujarnya.

Selama produksi, dia mengaku selain pewarnaan pada batik, bahan-bahan pewarna sampai saat ini dia harus belanja dari Solo. Di Kota Kediri, hanya bahan-bahan dasar saja seperti malam dan kain. Selain bahan tersebut, dia harus berbelanja daring atau ke luar daerah. Kendala lain terkadang jika lama tidak digunakan kualitas warna akan turun karena itu sebelum digunakan dia akan mencoba pada kain tidak terpakai.

Saat ini dia sedang berupaya untuk membuat merek sendiri dan mematenkan produk dengan mendaftarkan pada Hak Kekayaan Intelektual. Sebab selama berkeliling dari pameran ke pameran lain, Ida mengaku masih belum ada gambar batik yang menyamai gambarannya. “Iya harapannya memang ke sana, selain itu harapannya batik Topeng Panji ini bisa jadi khas atau identitas Kota Kediri,” pungkasnya.

Selama ini, menurut Ida permintaan Batik Topeng Panji masih banyak dari luar kota seperti Surabaya. Dalam pemasaran dia memanfaatkan jaringan sesama seniman. Bahkan dia juga pernah mengirim karyanya ke butik batik milik rekannya di Australia.

Untuk sementara ini, dia tidak memproduksi batik secara massal. Hanya sesuai pesanan, baik Topeng Panji atau gambar batik lainnya. Untuk harga pun berada di kisaran Rp 500 sampai 700 ribu sesuai kesulitan dan ukuran.

Agar lebih diminati, dia berencana menggunakan bahan pewarna alami dan mengkombinasikan batik dengan cara pewarnaan jimpitan. Dengan inovasi moderen ini dia berharap semakin banyak kalangan muda memilih batik sebagai busana resmi atau untuk sehari-hari.