Masa Depan Gaspar Vega di Persik Kediri Belum Jelas, Manajemen Buka Suara Soal Penyebabnya

Kediri Dalam Berita | 23/09/2020

tribunnews

 
PERSIK KEDIRI
 
Logo Persik Kediri 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Sampai ini,  masa depan Gaspar Vega di Persik Kediri masih belum jelas.

Manajemen Persik buka suara soal penyebabnya.

Apa yang terjadi sebenarnya? Simak selengkapnya!

Manajemen Persik Kediri masih lakukan proses renegosiasi kontrak pemain asingnya Gaspar Vega yang belum kembali kepada tim Macan Putih.

Nama Gaspar Vega masih menjadi pertanyaan besar oleh Persik Mania julukan supporter bagi tim berjuluk Macan Putih ini.

Pasalnya hingga detik ini status pemain asal kelahiran Argentina tersebut masih belum jelas.

Gaspar Vega memang memilih untuk pulang ke negara asalnya sejak diliburkan manajemen Persik Kediri bersamaan dengan dihentikannya kompetisi Liga tanah air akibat pandemi.

Hingga saat ini manajemen Persik Kediri masih berusaha untuk kembali mendatangkan Gaspar Vega.

Media Officer Persik Kediri Anwar Bahar Bassalamah mengatakan hingga detik ini proses renegosiasi untuk mendatangkan pemain gelandang andalannya masih terus berjalan.

Menurut pengakuan Bas, sapaan akrab media officer Persik Kediri ini, kepastian Gaspar Vega akan segera di rilis sebelum kick kompetisi Liga bergulir.

"Tetap dipertahankan atau lepas," ungkapnya.

Disinggung apa yang menjadi penyebab alotnya proses renegosiasi, Bas menyebut didasari persoalan gaji pemain.

"Intinya, Gaspar Vega kurang sepakat dengan SK yang telah diturunkan oleh PSSI tentang pemotongan gaji pemain sebesar 50 persen," jelasnya.

"Ya, kita tunggu saja hasil akhirnya nanti seperti apa," imbuhnya.

Diketahui, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) mengizinkan klub-klub Liga 1 dan Liga 2 Indonesia memotong gaji pemain dan pelatih dalam lanjutan kompetisi yang dimulai Oktober 2020.

Pemotongan gaji tersebut diizinkan di tengah krisis klub yang menghadapi kerugian akibat pandemi Covid-19.

Dalam SKEP/53/VI/2020 yang ditandatangani Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan pada 27 Juni 2020, PSSI menyatakan tim-tim Liga 1 boleh menggaji pemain dan pelatihnya 50 persen dari kontrak

Sementara untuk Liga 2, 60 persen dari nilai kontrak atau sekurang-kurangnya di atas upah minimum regional yang berlaku di tempat klub berbasis.