Kediri (Antaranews Jatim) - Ibu rumah tangga dianjurkan untuk memahami mengatasi bencana. sehingga penting bagi mereka belajar tentang kebencanaan, demikian dikatakan oleh Wakil Wali Kota Kediri Lilik Muhibbah.


"Ini sangat pas karena ibu-ibu bersinggungan langsung dengan rumah tangga. Dengan diberi sosialisasi diharapkan ibu-ibu bisa meminimalkan dampaknya," katanya dalam acara penyebarluasan informasi potensi kebencanaan yang diselenggarakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri, di Kelurahan Kaliombo, Kota Kediri, Senin.


Dalam kegiatan itu, BPBD Kota Kediri mengajak ibu-ibu yang tergabung Muslimat Nahdlatul Ulama Kota Kediri untuk belajar. Mereka diberi informasi tentang cara mengatasi berbagai bencana seperti yang sering terjadi misalnya kebakaran akibat kebocoran tabung elpiji. 


Ning Lik, sapaan akrab perempuan yang juga Ketua Umum Muslimat NU Kota Kediri ini juga berpesan agar ibu-ibu mendengarkan dengan baik materi yang akan diberikan nanti, sehingga bila terjadi bencana kebakaran akibat kebocoran tabung elpiji mereka tidak panik.


"Jangan panik terlebih dahulu. Banyak kejadian bencana kebakaran semakin membesar akibat kepanikan. Jadi tidak bisa berpikir bagaimana cara meminimalisir dampak nya," ujarnya.


Kegiatan itu diikuti sekitar 100 orang anggota Muslimat NU Kota Kediri. Mereka sangat senang ikut acara itu, sebab banyak ilmu baru yang didapatkan. Ilmu itu juga bermanfaat, terlebih lagi mereka setiap hari juga berkutat dengan barang yang mudah terbakar misalnya tabung elpiji.


"Kami diajarkan bagaimana dan apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana. Ternyata, yang terpenting, kami justru tidak boleh panik," kata Ulfi, salah seorang peserta.


Sebelumnya, BPBD Kota Kediri, juga intensif melakukan sosialisasi serta simulasi untuk tanggap bencana. BPBD memberikan pemahaman kepada masyarakat serta mengurangi potensi terjadinya bencana.


Kepala BPBD Kota Kediri Syamsul Bahri mengatakan ada beberapa titik potensi bencana yang ada di Kota Kediri, misalnya Kelurahan Pojok, Dandangan, Balowerti, Ngadirejo, Manisrenggo, Tempurejo hingga Ketami. Daerah-daerah itu berpotensi terjadi bencana banjir.


Sedangkan, untuk potensi bencana tanah longsor ada di Kelurahan Pojok. Dan, untuk bencana kebakaran umumnya terjadi di wilayah padat penduduk dan sifatnya kebakaran domestik atau kelalaian dan salah penanganan. Lokasi yang pernah terjadi musibah kebakaran misalnya di Kelurahan Dandangan, Balowerti, Ngadirejo, Pakelan dan Singonegaran.


"Sebenarnya penyebabnya sepele, biasanya ada gas yang bocor dan menyebabkan kebakaran kecil. Tapi karena kepanikan, biasanya disiram menggunakan air dan akhirnya oksigen dalam kandungan air menyebabkan ledakan api dan kebakaran besar terjadi," ujar Syamsul.