Inggita Prameswari, Siswi Tunarungu yang Borong 4 Medali Peparnas

*Pelajari Teknik Renang Atlet Dunia lewat Internet

      Dari kejauhan sekolah luar biasa (SLB) Putra Kasih tampak lengang pagi itu. Semua siswa sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas. Namun, begitu melewati halaman kelas, terdengar suara riuh. Ada yang bertanya kepada guru, ada yang menggoda teman. Meski tiap kelas hanya dihuni beberapa anak, suasananya terlihat ramai.

      Di ruang kelas 5, anak-anak sedang asyik mendengarkan penjelasan guru. Termasuk gadis manis berjilbab, Inggita Prameswari. Sikapnya yang malu-malu membuatnya tak berbeda dengan rekan-rekannya yang lain.

       Padahal, Gita demikian dia disapa baru saja meraih medali emas di Peparnas XIV/2012 di Pekan baru, Riau 7-13 Oktober lalu. Medali emas tersebut ditorehkannya di cabang olahraga renang untuk nomor 50 meter gaya dada. Bahkan gadis II tahun ini berhasil memecahkan rekor nasional di nomor tersebut dengan catatan waktu 46,171 detik. Tak hanya itu, Gita yang menjadi kontingen Jawa Timur juga menyumbangkan medali perak di nomor 50 meter gaya kupu-kupu, serta dua medali perunggu untuk nomor 100 meter gaya dada, dan 50 meter gaya punggung. Total empat medali diborongnya.

       Ketika ditemui Radar Kediri, Gita yang mengalami kekurangan pendengaran atau tunarungu hanya bisa tersipu malu dan memandangi sang ayah, Fajar Darmawan. Pun saat ditanya mengenai prestasi dan olahraga renang yang digelutinya, dia menjawab melalui ayahnya.

      "Sejak dulu Gita suka renang," ucapnya meski tak jelas. Gadis kelahiran 21 Maret 2001 ini memang sudah masuk klub renang sejak kelas 1. Kala itu, Fajar yang mendorong anak semata wayangnya tersebut. Awalnya sekedar melatih kemampuan dan hobi saja. Tapi lambat laun, kemampuan Gita di bidang ini terlihat. Pelatihnya di klub renang Arwana pun terus inengasah bakatnya.

      "Awalnya karena saya lihat dia suka main di air, akhirnya saya ikutkan klub renang, alhamdulillah ternyata sekarang berprestasi," jelas Fajar yang guru bahasa Indonesia di SMAN 8 Kediri tersebut. Di awal berlatih Gita mengalami kesulitan memahami apa yang diajarkan pelatih. Namun, seiring waktu ia mulai terbiasa. Sang pelatih kerap memberi tanda atau kode tertentu untuk menjelaskan kepada Gita saat berlatih.

       Tak jarang, bila sudah capek atau terlalu lama latihan, sifat kekanakan Gita muncul. Untung saja, orang tua dan pelatih renang punya cara membujuknya. "Kalau sudah capek, dia pasti malas latihan bahkan sampai mangkir latihan, harus ekstra sabar menghadapinya," lanjut Fajar sambil tersenyum.

      Seperti saat training centre (TC) sebelum Peparnas, selama dua minggu Gita harus berlatih tanpa henti. Apalagi TC berlangsung di luar kota, yaitu di Malang. Tak setiap hari bersama orang tua, terkadang membuatnya tak berminat latihan. Untung saja, hal tersebut tidak membuatnya mengalami kemunduran.

       Saat Peparnas lalu, Gita berangkat di dampingi ibunya Ratna Endraswati. Di sana, ia sangat senang karena bertemu rekan-rekan lainnya yang juga berkebutuhan khusus. Usaha kegiatan tersebut, Gita tetap menjalin pertemanan melalui situs jejaring sosial melalui facebook," ujarnya sumringah.

       Walaupun berkebutuhan khusus, Gita tak gagap teknologi. Orang tuanya memberikan ruang belajar seluas-luasnya. Bahkan, Gita kerap belajar mengenai teknik dan gaya renang atlet dunia lewat internet. Dia mengunduh lomba renang para jawara dunia tersebut dari melihatnya berulang-ulang sebelum berlatih. Ketika ditanya, apakah ingin menjadi atlet renang dunia Gita mengangguk sambil tersenyum. Namun, impian terbesarnya adalah menjadi pelatih renang. Dia ingin mengajari anak-anak lain berenang. "Mau jadi guru renang," ungkapnya.

         Orang tua Gita pun selalu mendukung impian anaknya. Apalagi di usia masih belasan, anaknya masih dalam masa tumbuh kembang. Minat dan bakatnya yang lain masih bisa tumbuh dan diasah. "Saat ini dia sepertinya agak jenuh dengan renang, saya mulai arahkan ke yang lain juga," tutur Fajar. Fajar tak pernah membatasi minat sang anak meskipun berkebutuhan khusus. Justru, hal tersebut menjadi tantangan baginya sebagai orang tua. Dia pun belajar banyak dari sang anak.

        Syamsudin, Kepala SLB Putra Asih, sangat bangga dengan prestasi anak didiknya. Dia juga senang karena orang tua Gita memberi arahan dan dukungan penuh terhadap minat bakat anaknya. "Anak berkebutuhan khusus juga bisa berprestasi dan berani tampil, tentu saja dengan dukungan dari orang tua dan lingkungan sekitar," paparnya.

Kediri, Radar