Bandung Elektrik

Posted : 24 April 2013

Belajar Listrik dari Papa, Kembangkan ke Furnitur. Toko Listrik Bandung Electric menjadi toko tertua di Jalan Dhoho untuk urusan listrik. Lebih dari seperempat abad, Bandung Electric masih berdiri. Bahkan, saat ini terus berkembang. Kini di tangan generasi kedua, Bandung Electric merambah dunia furnitur.

"Saya tidak pernah sekolah di jurusan elektro," ujar Wibisono Wijanto, owner Bandung Electric di Jalan Dhoho No.29 Kota Kediri kemarin. Bahkan, pendidikan terakhir Wibisono adalah S-1 Ekonomi di ABM Malang. Meski begitu, pengetahuan bapak tiga anak ini tentang listrik dan peralatannya, sangat dalam. Dia mengetahui luar dalam soal kelistrikan. Mulai dari jenis-jenis kabel hingga lampu sangat hafal. Pengetahuan tentang listrik dan alat-alatnya itu tidak terlepas dari kecintaan Wibisono pada dunia listrik. Sejak kecil, dia sering membantu Heri Wijanto, 64, ayahnya, di toko.

Kali pertama, Bandung Electric bernama Toko Bandung pada 26 tahun silam. Pemiliknya adalah Heri Wijanto. Sehingga secara tidak langsung Wibisono kecil belajar kelistrikan dari papanya. Ke generasi di Toko Bandung terjadi ketika tongkat estafet bisnis diserahkan Heri ke Wibisono. Karena dari empat anak pasangan Heri dan Juniwati, hanya Wibisono yang tertarik meneruskan bisnis keluarga. Anak ketiga tersebut dianggap layak mengembangkannya.

Pada 1992, Toko Bandung di Jl Patimura pindah ke jl Dhoho. Namanya, juga berubah menjadi Bandung Electric. Di tangan Wi­bisono, toko itu makin berkembang. Hingga sekarang masih kokoh berdiri. Namun, Wibisono tidak mau berpuas diri. Didampingi Lilis, 35, istrinya, dia terus berinovasi. Di Toko Bandung Electric, ada ruangan sebelah utara untuk memajang furnitur. Bisnis itu temyata dirintis Wibisono dan Lilis sejak 2005. "Furnitur lebih menjanjikan," ujar penghobi sepeda ini.

Selain dianggap lebih menjanji­kan, usaha furnitur juga dirasa cocok dengan bisnis alat-alat listrik. Karena manusia selalu membutuhkan furnitur. "Setelah listrik pasti orang akan berpikir ke furnitur ,” ungkapnya.

Untuk usaha furniturnya, Wibi­sono dan Lilis memberi nama Paradiso Furniture. Alamatnya di Jl Panglima Sudirman, Kota Kediri dan H Supriyadi, Jepun, Tulungagung. "Paradiso untuk masyarakat ekonomi menengah ke atas," sambung Lilis.

Karena yang dibidik menengah ke atas, harga furnitur di atas Rp 1 juta. Kualitasnya pun kelas satu. Lalu bagaimana dengan masyarakat rnenengah ke bawah? Lilis tidak tutup mata soal hal tersebut Sebagai pengusaha, dia juga melirik'' pasar tersebut.

Karena itu, pada sekitar 2010, Li­lis membuka toko furnitur bernama Dunia Mebel di II Patimura. Dunia Mebel menempati bekas Toko Bandung. "Harga di bawah Rp 1 jutaan,” ujar wanita asal Malang ini.

Dengan jiwa muda, Wibisono dan Lilis mempunyai teknik mar­keting andal. Furnitur tak hanya dipajang di toko. Namun, kerap ikut pameran di mall. Brosur juga disebut di mana-mana. Sehingga, konsumen mudah mengetahui produk mereka.

Tak hanya itu, iklan di media massa juga jadi senjata. Dengan iklan di media massa, Paradiso bisa lebih dikenal masyarakat luas. Untuk menarik pengunjung, Wibi­sono dan Lilis tidak hanya memajang furnitur apa adanya. Mereka selalu menyesuaikan dengan tema.

"Jika tema kamar tidur, kami siapkan fumitur untuk kamar, dan sebagainya," terangnya.

Soal sistem pembayaran pasutri ini bersikap luwes. Konsumen bisa kredit Sebab toko rnenggandeng perusahaan leasing. Tidak hanya itu, Lilis juga memberikan potongan harga atau diskon untuk rnenarik minat masyarakat. Bahkan, jika membeli barang satu set, harganya pun lebih murah. "Persaingan furnitur ketat. Harus ada improvisasi untuk bisa bertahan dan berkembang," ujar Lilis.

Kediri, Radar