BU RENNY PRAMUGARI, PAK DOKTER MOMONG ADIK
Posted : 16 Juli 2013

* Eksekutif Mengajar, Pejabat Jadi Guru Dadakan di Sekolah

       Apa cita-cita Ketua DPRD Kota Kediri Wara S. Renny Pramana sewaktu kecil?. Ternyata jauh dari jabatan yang diembannya sekarang. Sebab, saat duduk di bangku SD, perempuan yang juga ketua DPC PDIP itu bercita-cita menjadi pramugari Garuda lndonesia Airlines (GIA). Hal tersebut diungkapkan Renny di depan puluhan siswa kelas V dan VI SDN Dandangan 1 kemarin. Dalam program Eksekutif Mengajar yang digelar untuk memperingati ulang tahun ke-14 Radar Kediri, Renny menceritakan perjalanan hidupnya kepada para bocah tersebut. "Waktu Itu ingin jadi pramugari agar bisa terbang ke mana-mana," katanya disambut tawa para siswa. Seiring berjalannya waktu, cita-cita Renny pun berubah. Saat di bangku kuliah, cita-citanya berubah ingin menjadi diplomat. "Makanya saya rajin belajar bahasa asing," imbuhnya

        Kepada para siswa, Renny memotivasi agar mereka mempunyai mimpi yang tinggi. Sehingga, bisa mengejarnya kelak. Ibu dua anak ini juga berbagi kunci sukses. Mulai dari menetapkan target atau cita-cita hingga membiasakan diri berdisiplin. "Masa kecil saya dulu tidak seenak kalian. Kalau sekarang jilbabnya bagus-bagus. “Saya dulu jilbabnya pakai jarit ibu dikancingin," ungkapnya disambut tepuk tangan anak-anak.

        Dimulai pukul 09.00 tepat, Renny didampingi Kabid Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Kediri Noto. Mantan kepala SMPN 1 ini memuji program Eksekutif Mengajar tersebut. "Ini bisa memotivasi belajar siswa. Ke depan harus dijadikan agenda rutin. Kalau perlu mendatangkan kiai ke sekolah," katanya.

        Berbagi pengalaman juga dilakukan Wali Kota Samsul Ashar di MI Miftahul Ulum, Bawang, Pesantren. Kepada ratusan siswa madrasah tersebut, dokter spesialis penyakit dalam itu mengisahkan masa kecilnya. "Bapak dulu usai salat Subuh langsung menyapu mburitan (halaman belakang) dan latar (halaman depan). Pulang sekolah momong adik-adiknya,” kisahnya.

       Bahkan, saat musim panen, dia ikut menunggu sawah. Sebab, sebagai kepala desa, ayahnya juga mempunyai sawah. "Saya ngusir burung-burung yang mau makan padi," lanjut Samsul yang mulai mengajar pukul 10.00.

       Aktivitas itu menjadi rutinitas hariannya. Meski demikian, dia melakukamiya dengan senang hati. Apalagi, membantu orang tua adalah wajib hukumnya. Dan, dia percaya, doa serta restu orang tuanyalah yang bisa membuatnya bisa menjadi dokter. "Jangan sampai orang tua disente-sente (dibentak). Karena doa yang paling mujarab adalah doa orang tua," ujarnya.

         Di MI Raudlatul Mubtadin Bujel, Mojoroto, Dandim 0809 Letkol Inf Heriyadi juga mengajar tepat pukul 09.00. Yang menarik, dia mengajar sarnbil duduk lesehan bersama para murid. "Hari ini (kemarin) Bapak yang menjadi guru kalian," ujar pria asal Makassar tersebut.

        Heriyadi menyampaikan materi yang tersaji dalam slide power point. Kepada para siswa kelas dua hingga kelas enam itu, dia mengisahkan masa kecilnya yang sudah di didik dengan keras dan digembleng untuk mandiri. "Biar nanti kalau sudah besar tidak menggantungkan hidup kepada orang tua terus," ujarnya.

       Selain didikan orang tua di rumah, Heriyadi juga banyak mengembangkan diri lewat berbagai kegiatan di sekolah. "Dulu Bapak sering ikut pramuka," terang pria kelahiran 22 Oktober 1967 ini. Gemblengan orang tua dan aktivitasnya di banyak kegiatan sekolah itulah yang dirasakan manfaatnya setelah dewasa. Terutama dalam hal kemandirian. Apalagi setelah dia berkarir sebagai tentara.

       Heriyadi lantas membukakan slide dengan wajah KSAD Jenderal TNI Moeldoko. Di depan murid barunya Heriyadi menjelaskan bahwa jenderal bintang empat itu merupakan putra asli Kediri. "Pak Moeldoko itu rumahnya di desa. Beliau kelahiran Purwoasri, Kediri. Tapi, sekarang bisa jadi jenderal," jelas Heriyadi disambut tepuk tangan para siswa.

        Sementara itu Wawali Abdullah Abu Bakar yang sudah menyatakan kesediaannya untuk mengajar di SDN Ngletih, Kecamatan Pesantren kemarin batal datang. Sekitar pukul 10.00, dia akhirnya digantikan oleh General Manager (GM) Radar Kediri Tauhid Wijaya.

       Tauhid banyak mengulas tenang dunia kewartawanan dan kepenulisan. Juga tentang kebangsaan dan peta dunia. "Setelah saya jadi wartawan, saya baru sadar bahwa sejak SD memang suka menulis," katanya kepada para murid kelas lima. Karena itu, dia memotivasi para bocah tersebut untuk menyeriusi apa yang disuka. Sebab, bisa jadi hal itu bakal ikut menentukan masa depannya.

       Untuk diketahui, para pejabat Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Kediri kemarin ikut terjun langsung mendampingi para eksekutif yang mengajar di sekolah-sekolah. Masing-masing Kadisdik Gunawan Setyobudi yang mendampingi wali kota bersama Kepala Kantor Kemenag Kota Kediri Suryat.

       Lalu, Kabid Dikmen Noto mendampingi ketua DPRD, Kabid Pundidikan Non-formal Informal (PNFI) Agus Suharmaji mendampingi dandim, dan Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) Muladi yang sedianya mendampingi wawali.

       Hadir pula kepala sekolah/madrasah masing-masing. Juga, ketua komite. Mereka menyambut baik program ini. "Kami senang sekali. Apalagi sebagian siswa kami datang dari keluarga kurang mampu," ujar Kepala MI Raudlatul Mubtadin Bujel Khoyaniamah.

         Program Kksekutif Mengajar dalam rangka memperingati HUT ke-14 Radar Kediri yang jatuh pada 12 Juli ini digelar selarna tiga hari. Hari ini, giliran sekolah-sekolah di Kabupaten Kediri. Bupati Haryanti dijadwalkan mengajar di SDN Titik, Semen. Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Nasril di SDN Wonokerto, Plemahan. Dan, GM Insumo Hotel Uyan Lesmana di SDN Gabru, Gurah.

Kediri, Radar