Temukan Ikan Asin dan Teri Berformalin

Posted : 03 Juli 2014

Kandungan Sampai 20 Miligram, Disperta Sebut dari Luar Kota

Anda gemar mengonsumsi ikan asin? Berhati-hatilah. Sebab, tim dinas pertanian (disperta) yang inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Banjaran, kemarin, menemukan kandungan formalin di  3 jenis ikan asin.

Dalam sidak sekitar pukul 09.00 itu petugas disperta memeriksa ikan asin gloso, rincik, dan pedo. Awalnya tim mengambil sampel masing-masing ikan asin. Kemudian menumbuknya dengan ditambah sedikit air. Setelah diberi larutan kimia dan dites menggunakan Quantofix Formaldehyd, barulah terlihat kandungan formalin tiga ikan asin itu.

"Ikan asin gloso mengandung formalin 20 miligram. Rincik dan pedo sama-sama mengandung 10 miligram formalin," kata salah satu petugas disperta yang mengetes kemarin.

Tak hanya ikan asin, tim juga mengecek kandungan formalin ikan teri. Hasilnya, ternyata juga mengandung formalin meski kadarnya tak sebanyak ikan asin. Yaitu, lima miligram.

Kepala Disperta Kota Kediri Harris Chandra Purnama mengatakan, sidak memang untuk memastikan seluruh ikan dan daging yang dipasarkan selama Ramadan ini aman. Lalu, bagaimana dengan temuan ikan asin dan teri berformalin?

Ditanya demikian, Harris mengungkapkan, ikan asin dan teri yang dijual di Banjaran merupakan produk dari luar kota. Yaitu, dari Tuban. Kendati bukan produk Kota Kediri, disperta akan melakukan pembinaan pada pedagang. "Mereka kami minta memilih ikan asin dan teri yang tidak mengandung formalin agar tak membahayakan," terangnya.

Agar bisa berkurang kandungan formalinnya, Harris meminta masyarakat merendam ikan teri atau ikan asin dalam air panas sekitar 30 menit sebelum digoreng, "Paling tidak itu bisa mengurangi kadar formalin pada ikan kering," imbuhnya berbagi resep.

Untuk diketahui, tim dari dis­perta kemarin tak hanya mengecek kandungan formalin pada ikan asin. Mereka juga mengecek tata cara pemotongan ayam di Pasar Banjaran yang memang menjadi sentranya.

Sebagian petugas terlihat menyemprot desinfektan pada area penjualan ayam untuk mencegah penularan penyakit membahay­akan. Melihat lokasi pemotongan ayam yang ala kadarnya, Harris menilai lokasinya tak higienis. "Nanti kami akan mengusulkan pembangunan rumah pemoto­ngan ayam di sini. Jadi, ayam yang diedarkan masyarakat bisa terjamin higienitasnya," terang dia.

Dengan kondisi pemotongan ayam seperti kemarin, Harris khawatir daging ayam yang dijual di pasar tidak terjamin kesehatannya. "Kalau pemotongannya bersih dan higienis. Ayam yang beredar di masyarakat akan benar-benar layak dikonsumsi," imbuhnya.

Untuk diketahui, tempat pemo­tongan ayam di Pasar Banjaran terkesan kumuh. Setelah ayam disembelih, ayam-ayam itu langsung dimasukkan ke dalam long besar yang ada di atas perapian. Selama beberapa menit kemudian, ayam diangkat dan langsung dibersihkan bulu-bulunya dan diproses untuk dipotong kecil-kecil sebelum dibawa ke pasar.

Yang membuat kesan kumuh tempat pemotongan adalah bangunannya hanya dibuat sekadarnya. Lantai tempat pemo­tongan terbuat dari semen yang usang. Kemudian, plester dinding hanya separo bangunan saja. Sedangkan yang lainnya dibiarkan terbuka.