Selayang Pandang Kota Kediri

Terbelah oleh Sungai Brantas yang membujur dari selatan ke utara sepanjang 7 kilometer, Kota Kediri memiliki luas wilayah 63,40 km² dan merupakan kota terbesar ketiga di Provinsi Jawa Timur. Kota Kediri terletak 130 km barat daya dari ibukota Provinsi Jawa Timur, Surabaya. Letaknya berada di lereng Gunung Klotok yang merupakan anak Gunung Wilis.

Kota Kediri memiliki tiga wilayah kecamatan yang berada sebelah barat dan timur Sungai Brantas. Wilayah di timur sungai berada di dataran rendah terdiri dari Kecamatan Kota dan Kecamatan Pesantren, sementara wilayah barat sungai masuk dalam Kecamatan Mojoroto.

Menurut data sensus penduduk pada 2012, Kota Kediri memiliki jumlah penduduk sebanyak 312.331 jiwa. Mayoritas penduduknya beragama Islam, lalu kemudian Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu dan aliran kepercayaan lain. Suasana keberagamaan di Kota Kediri berlangsung harmonis, sehingga nyaris tidak pernah ada gesekan antar agama dan aliran kepercayaan di Kota Kediri.

Wilayah Kota Kediri salah satunya ditopang oleh eksistensi industri gula yang telah ada sejak jaman pra kemerdekaan. Yang masih eksis dan produktif adalah PG Pesantren Baru, sebagai bagian dari PT Perkebunan Nusantara X. Berada di Jl Mauni, Kecamatan Pensantren, Kota Kediri, pabrik gula ini memiliki kapasitas produksi 6.250 ton gula per hari, nomor dua terbesar dari 11 pabrik gula di wilayah PTPN X yang meliputi Sidorajo, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Kediri dan Tulungagung.

Pada 1930-an, Indonesia pernah menjadi eksportir gula terbesar di dunia setelah Kuba. Di masa penjajahan, gula menjadi komoditas andalan Belanda dalam mengeruk pundi-pundi uang dari tanah jajahan. Sebagian adalah produksi gula di wilayah Kediri.

Kota Kediri juga memiliki pabrik gula yang usianya sudah sangat tua: PG Meritjan. Pabrik gula ini telah berdiri sejak 1809. Kapasitas produksinya tidak sebesar PG Pesantren Baru, pabrik ini mempunyai kapasitas produksi 2.800 ton gula per hari. Namun PG Meritjan memiliki kelebihan, bangunan tua yaang masih peninggalan khas Belanda menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk mengunjunginya.

Sejarah Singkat

Artefak arkeologi yang ditemukan pada tahun 2007 menunjukkan bahwa daerah sekitar Kediri menjadi lokasi kerajaan Kediri, sebuah kerajaan Hindu pada abad ke-11. Awal mula Kediri sebagai pemukiman perkotaan dimulai ketika Airlangga memindahkan pusat pemerintahan kerajaannya dari Kahuripan ke Dahanapura, menurut Serat Calon Arang. Dahanapura (Kota Api) selanjutnya lebih dikenal sebagai Daha. Sepeninggal Raja Airlangga, wilayah Medang dibagi menjadi dua: Panjalu di barat dan Janggala di timur. Daha menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu dan Kahuripan menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Jenggala. Panjalu oleh penulis-penulis periode belakangan juga disebut sebagai Kerajaan Kadiri/Kediri.

Semenjak Kerajaan Tumapel (Singasari) menguat, ibukota Daha diserang dan kota ini menjadi kedudukan raja vazal, yang terus berlanjut hingga Majapahit, Demak, dan Mataram. Kediri jatuh ke tangan VOC sebagai konsekuensi Geger Pecinan. Jawa Timur pada saat itu dikuasai Cakraningrat IV, adipati Madura yang memihak VOC dan menginginkan bebasnya Madura dari Kasunanan Kartasura. Karena Cakraningrat IV keinginannya ditolak oleh VOC, ia memberontak. Pemberontakannya ini dikalahkan VOC, dibantu Pakubuwana II, sunan Kartasura. Sebagai pembayaran, Kediri menjadi bagian yang dikuasai VOC. Kekuasaan Belanda atas Kediri terus berlangsung sampai Perang Kemerdekaan Indonesia.

Perkembangan Kota Kediri menjadi swapraja dimulai ketika diresmikannya Gemeente Kediri pada tanggal 1 April 1906 berdasarkan Staasblad (Lembaran Negara) no. 148 tertanggal 1 Maret 1906. Gemeente ini menjadi tempat kedudukan Residen Kediri dengan sifat pemerintahan otonom terbatas dan mempunyai Gemeente Raad (Dewan Kota/DPRD) sebanyak 13 orang, yang terdiri dari delapan orang golongan Eropa dan yang disamakan (Europeanen), empat orang Pribumi (Inlanders) dan satu orang Bangsa Timur Asing. Sebagai tambahan, berdasarkan Staasblad No. 173 tertanggal 13 Maret 1906 ditetapkan anggaran keuangan sebesar f. 15.240 dalam satu tahun. Baru sejak tanggal 1 Nopember 1928 berdasarkan Stbl No. 498 tanggal 1 Januari 1928, Kota Kediri menjadi "Zelfstanding Gemeenteschap" ("kota swapraja" dengan menjadi otonomi penuh).

Kediri, The Service City

Untuk Meningkatkan peluang investasi di Kota Kediri, pemerintah kota menerapkan berbagai layanan untuk memberikan kemudahan bagi calon investor. Salah satunya adalah pembentukan Badan Penanaman Modal (BPM) Kota Kediri yang mempunyai tugas melaksanakan sebagian urusan pemerintah daerah dibidang penanaman modal yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian sesuai dengan kebijakan Walikota Kediri.

Pemerintah Kota Kediri juga berbenah dalam penigkatan pelayanan prima kepada masyarakat. Agar pelayanan terhadap masyarakat lebih representatif, pemerintah melakukan perbaikan gedung pelayanan di seluruh kelurahan yang ada di Kota Kediri. Tidak hanya gedung pelayanannya saja namun sarana dan prasarana pendukung pelayanan juga diperbaiki. Diharapkan dengan gedung pelayanan yang baru, suasana baru bisa tumbuh, sehingga mendorong gairah dan semangat kerja yang produktif dalam melayani masyarakat.

Keberadaan BPM ditujukan untuk membantu para investor menanamkan modalnya di Kota Kediri. BPM memberikan kemudahan layanan perijinan yang disyaratkan. Dari sekitar 153 item perjanjian, hanya 4 (empat) yang berbayar, sisanya gratis. Dengan berbagai kemudahan tersebut Pemkot Kediri mendapatkan penghargaan "Investmen Award" 2015 di bidang pelayanan penanaman modal oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo.

Perekonomian

Kota ini berkembang seiring meningkatnya kualitas dalam berbagai aspek, yaitu pendidikan, pariwisata, perdagangan, birokrasi pemerintah, hingga olahraga. Pusat perbelanjaan dari pasar tradisional hingga pusat perbelanjaan modern sudah beroperasi di kota ini.

Industri rokok Gudang Garam yang berada di kota ini, menjadi penopang mayoritas perekonomian warga Kediri, yang sekaligus merupakan perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Sekitar 16.000 warga kediri menggantungkan hidupnya kepada perusahaan ini. Gudang Garam menyumbangkan pajak dan cukai yang relatif besar kepada pemerintah kota.

Di bidang pariwisata, kota ini mempunyai beragam tempat wisata, seperti Kolam Renang Pagora, Water Park Tirtayasa, Dermaga Jayabaya, Goa Selomangleng, dan Taman Sekartaji. Di area sepanjang Jalan Dhoho menjadi pusat pertokoan terpadat di Kediri. Beberapa sudut kota juga terdapat minimarket, cafe, hotel, hiburan malam dan banyak tempat lain yang menjadi penopang ekonomi sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kota Kediri menerima penghargaan sebagai kota yang paling kondusif untuk berinvestasi dari sebuah ajang yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat dan kualitas otonomi. Kota Kediri menjadi rujukan para investor yang ingin menanamkan modalnya di kota ini. Beberapa perguruan tinggi swasta, pondok pesantren, dan lain sebagainya juga memberi dampak ke sektor perekonomian kota ini.

Jalan Basuki Rahmad No.15, Pocanan, Kota Kediri, Jawa Timur 65146

(0354) 682955

kediri@kedirikota.go.id